Persepsi Masyarakat Terhadap Kebijakan Bebas Rokok di Kota Depok

sumber : google.com


Kota Depok di Jawa Barat, Indonesia, merupakan kota yang telah memulai penerapan kebijakan tanpa asap rokok sejak tahun 2015, namun kota ini masih menuai kritik atas kelemahan proses tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi kelompok sasaran terhadap kebijakan tanpa rokok sebagai bagian dari pengabdian masyarakat perguruan tinggi. 


Beberapa penelitian telah mendukung bahwa kebijakan bebas asap rokok merupakan alat yang berguna untuk mengurangi prevalensi merokok dan meminimalkan faktor risiko dari konsumsi rokok. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Persepsi kelompok sasaran ini akan menjadi dasar untuk langkah selanjutnya dari penelitian tata kelola kolaboratif. 


Studi ini melakukan satu kali diskusi kelompok terarah yang melibatkan 28 anggota masyarakat sebagai informan. Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar informan sudah mengetahui tentang dampak buruk rokok, namun sebagian belum memahami adanya kebijakan tanpa asap rokok. Kebijakan tanpa asap rokok di Kota Depok memberikan kewajiban yang hakiki kepada warga untuk melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap tahapan pelaksanaannya. 


Namun, penelitian ini menemukan bahwa informan tidak mengetahui dengan baik tentang peran ini dan sulit untuk mengidentifikasi saluran yang tersedia untuk pemantauan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan kepada Pemerintah Kota Depok untuk membangun platform informasi dan komunikasi untuk mengirim dan menerima pesan dari dan kepada masyarakat terkait pemantauan dan evaluasi kebijakan tanpa rokok. 


Seiring perkembangan teknologi, terdapat banyak mekanisme untuk berbagi informasi dan berkomunikasi dengan masyarakat atau organisasi yang dapat meningkatkan interaksi yang saling menguntungkan antara masyarakat dengan pemerintah Kota Depok. Saluran komunikasi ini sangat penting untuk menyelaraskan persepsi masyarakat atau perspektif masyarakat dengan sudut pandang pembuat kebijakan.


Analisis kuesioner dari masyarakat sasaran menunjukkan bahwa ada urgensi untuk memperkuat kebijakan tanpa rokok, meskipun masyarakat memahami efek berbahaya dari rokok atau perokok pasif. Urgensinya secara khusus terletak pada pemahaman dan persepsi yang sama antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Kebijakan tanpa asap rokok memberikan peran aktif kepada masyarakat sebagai pelaksana kebijakan. 


Namun, hasil survei membuktikan bahwa proses pelibatan kelompok sasaran masih terbatas, misalnya belum adanya sosialisasi. Mengingat semangat kelompok sasaran untuk mendukung kebijakan ini, upaya yang kuat untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas semua aktor menjadi penting, terutama dalam meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan bebas rokok belum menjadi perbincangan publik di masyarakat. 


Oleh karena itu, cara-cara kreatif untuk meningkatkan eksposurnya menjadi penting, seperti menggunakan media digital untuk mengkampanyekan kebijakan ini. Ini mungkin tidak hanya meningkatkan paparan informasi, tetapi juga meningkatkan saluran komunikasi yang ada, terutama yang akrab dengan kelompok sasaran. Seiring berkembangnya teknologi, banyak platform media sosial atau messaging platform yang bisa memberikan solusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IMAX Di Margonda City Resmi Dibuka!

Filosofi Logo Kota Depok

Pendidikan di Kota Depok yang Belum Merata