Pendidikan di Kota Depok yang Belum Merata
Pendidikan di Kota Depok yang Belum Merata
Melihat perkembangan
Pendidikan di Kota Depok saat ini, masih jauh dari kata sempurna. Pendidikan di
Depok masih belum merata. Banyak yang mengatakan bahwa kurangnya jumlah
sekolah, baik SD, SMP maupun SMA menjadi penyebabnya.
Perkembangan pendidikan di kota Depok belum
merata di semua jenjang, seiring kenaikan presentase partisipasi anak yang
tidak sekolah pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah
Atas (SMA).
Berdasarkan riset yang saya lakukan. Menurut data Badan
Pusat Statistik, presentase partisipasi anak yang tidak sekolah di kelompok
umur 16-18 mengalami kenaikan sebesar 2,82 persen pada tahun 2019. Secara
keseluruhan, persentase partisipasi anak yang lulus dari bangku SMA/SMK
sederajat pun mengalami penurunan pada tahun yang sama.
Tahun 2018, anak
yang berhasil menamatkan SMA/SMK dan sederajat mencapai 35,5 persen dari total
presentase penduduk berumur 15 tahun ke atas berdasarkan pendidikan tertinggi
yang ditamatkan.
Jumlah itu kemudian turun pada
tahun 2019 menjadi 31,51 persen. Turunnya presentase partisipasi pendidikan
tersebut diperparah dengan ketimpangan jumlah antara sekolah dan murid.
Dengan jumlah pelajar SMK yang mencapai 39,150 siswa,
ketersediaan sekolah di Depok hanya ada 128 sekolah. Jumlah itu lebih sedikit
dibanding sekolah yang tersedia di Kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 134 sekolah
yang menampung 37,171 siswa.
Padahal,
kelengkapan sarana dan prasarana menjadi salah satu cara menggenjot kualitas
pendidikan guna melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Tidak hanya pada
jenjang SMA/SMK sederajat, begitupun di Sekolah Dasar.
Persoalan belum
maksimalnya sarana dan prasarana pun berlaku di jenjang Sekolah Dasar (SD). Masih
banyak SD yang jauh dari kata sempurna.
Baru-baru saja
di tahun ini, Pemkot Depok menggenjot pembangunan infrastruktur sekolah sekolah
yang ada di Kota Depok. Dan saat ini, banyak SD-SD yang merger menjadi satu dan
gedung gedung SD tersebut akan di alokasikan menjadi bagungan lain.
Selain itu, di
jenjang SMP juga masih menjadi PR Pemkot Depok. Menurut data hanya ada 33 SMP
negeri di Kota Depok. Sedangkan jumlah SD Negeri mencapai 223 sekolah. Tentu,
dengan perbandingan seperti itu, akan banyak siswa yang tidak bisa masuk ke SMP
Negeri. Dan terkadang hal itu lah yang menjadi beberapa alasan orang tua untuk
tidak menyekolahkan anaknya. Ya SMP swasta sudah pasti anak di pungut biaya.
Sudah terbatasnya
jumlah sekolah negeri, Pungli pun masih marak terjadi. Biasanya ini di sebut
jalur belakang atau beli bangku. Yang dimana nilai tidak lagi di butuhkan tapi
uang lah yang dibutuhkan disini. Semakin banyak jumlah uang yang kita keluarkan
maka akan semakin besar peluang masuknya.
Mungkin, bagi Sebagian
warga Depok, pungli untuk masuk sekolah seperti sudah hal yang lumrah. Terkadang
tidak hanya dari pihak sekolah, bahkan dari pihak Dinas Pendidikan pun ada yang
bermain hal-hal seperti itu.
Harapannya, semoga
kedepannya Pemkot Depok terus mengembangkan Infrastruktur dan memperhatikan sarana
dan prasarana sekolah-sekolah yang ada di Kota Depok. Dan juga tidak lupa bisa
terus memberantas pungli pungli yang ada di lingkungan Pendidikan Kota Depok.
-Tajuk Rencana
Komentar
Posting Komentar