Depok Jadi Kota Itoleran, Wali Kota Depok Tak Terima
Depok – Menurut Setara Institute menyebut Kota Depok selama tiga tahun belakangan ini masuk ke dalam kategori intoleran berdasarkan hasil surveinya. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Depok, M Idris meminta untuk tidak memancing dan membuat suasanya menjadi tidak nyaman.
Mohammad Idris
mengatakan, melakukan survei di Kota Depok merupakan hak semua orang, namun
tetap dalam suasana damai di Kota Depok. Namun tidak mengeluarkan statement
yang dapat memperkeruh dalam masa politik saat ini.
“Apakah ini dianggap sebagai kota
intoleran, ini realita, kami mempertanyakan hasil survei dan metodenya seperti
apa,” ucap Idris.
Idris menambahkan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
(Kesbangpol) Kota Depok pada 2022 telah melakukan survei bersama akademis
Universitas Indonesia dan pelaku survei lainnya. Hasilnya Kota Depok dinyatakan
cukup baik dalam toleransi.
“Kota Depok ini dianggap cukup oleh hasil survei
profesor yang ada di UI memang kita tidak memberikan publikasi secara
besar-besaran,” pungkas Idris.
Dia menjelaskan, kerukunan antar umat
beragama berjalan cukup harmonis dan perhatian yang diberikan Pemerintah
diberikan sama rata kepada agama yang dilegalkan negara. Idris mengakui,
terkait penilaian dari sisi konflik, terdapat satu kecamatan rentan terjadinya
konflik.
“Memang ada satu Kecamatan yang rentan konflik tapi
masih dalam batasan cukup baik tidak terlalu membahayakan," jelas Idris.
Sebelumnya,
Setara Institute memberikan skor rendah dalam dua tahun secara beruntun pada
dua laporan Indeks Kota Toleran. Kota Depok mendapati skor terendah yakni 2,00
dan berada pada posisi ke 86 sebagai kota dengan tingkat peristiwa intoleransi
tertinggi.
Berdasarkan catatan Setara Institute, terjadi lima
peristiwa intoleransi dan pelanggaran hak atas kebebasan beragama.
Lima peristiwa tersebut yakni pengajuan Rancangan
Peraturan Daerah Kota Depok dalam Rangka Penyelenggaraan Kota Depok sebagai
Kota Religius, diskriminasi terhadap dua siswi berjilbab ingin melakukan
praktik kerja lapangan, dan pelarangan perayaan Valentine's Day.
Selain itu terdapat kesepakatan rapat soal Raperda
Kota Religius, dan demonstrasi yang meminta warga Ahmadiyah di Masjid
Al-Hidayah menghentikan kegiatan.
Komentar
Posting Komentar